Adab Kepada Kerabat: Merajut Tali Rahim, Menggapai Ridha Ar-Rahman
Dalam tatanan sosial Islam, kerabat atau kaum kekeluargaan memiliki kedudukan yang sangat istimewa setelah orang tua dan anak. Seorang Muslim yang lurus akidahnya memandang bahwa memperlakukan kerabat dengan adab yang baik bukan sekadar formalitas adat, melainkan perintah syariat yang bertaut langsung dengan rahmat Allah {Subhanahu wa Ta'ala}.
Begitu pentingnya hubungan ini, sampai-sampai Allah menggandengkan perintah takwa dengan perintah menjaga hubungan rahim:
“...Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim…” (QS. An-Nisa: 1).
Kedudukan Kerabat dalam Islam
Islam menyamakan derajat penghormatan kepada paman dan bibi layaknya menghormati orang tua kandung sendiri. Sebagai contoh, dalam urusan kasih sayang dan bakti, Rasulullah ﷺ menegaskan:
“Sesungguhnya kedudukan saudari ibu (bibi dari jalur ibu) sama dengan ibu.” (HR. Bukhari & Muslim).
Begitu pula dengan saudara laki-laki ayah, mereka diposisikan setara dengan ayah dalam aspek ketaatan, kebaktian, dan perbuatan baik. Aturan ini berlaku untuk semua orang yang terikat hubungan rahim dengan kita, baik mereka seorang yang beriman maupun kafir.
Ketika Asma’ binti Abi Bakr {radhiyallahu 'anhuma} bertanya tentang hukum bersilaturahmi kepada ibunya yang datang dari Mekah dalam keadaan masih musyrik, Rasulullah ﷺ menjawab dengan tegas:
“Iya, bersilaturahmilah kepada ibumu.” (HR. Bukhari & Muslim).
4 Manifestasi Adab Kepada Kaum Kerabat
Berdasarkan tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah, berikut adalah adab-adab praktis yang wajib ditegakkan kepada kaum kerabat:
1. Mendahulukan Hak Mereka dalam Kebaikan dan Harta
Kerabat terdekat adalah orang yang paling berhak menerima kebaikan dan bantuan finansial dari kita sebelum orang lain (QS. Al-Anfal: 75). Allah memerintahkan kita untuk memberikan hak harta kepada mereka secara patut:
Hak Karib Kerabat: “Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya...” (QS. Ar-Rum: 38).
Perintah Berbagi: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat…” (QS. An-Nahl: 90).
Adab Saat Pembagian Harta/Warisan: “Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim, dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.” (QS. An-Nisa: 8).
Bahkan, nilai sedekah kepada kerabat dilipatgandakan oleh Allah menjadi dua pahala sekaligus. Nabi ﷺ bersabda:
“Sedekah kepada seorang miskin dihitung sebagai sedekah, dan sedekah kepada para kerabat dihitung sebagai sedekah dan menyambung hubungan Rahim.” (HR. Nasa'i & Ibnu Majah).
2. Memuliakan yang Tua, Menyayangi yang Muda
Seorang Muslim senantiasa mempraktikkan adab yang proporsional. Kerabat yang lebih tua wajib dihormati dan dipatuhi dalam kebaikan, sedangkan kerabat yang lebih kecil disayangi dan dibimbing. Saat mereka sakit, wajib untuk dijenguk, serta ikut berduka dan menghibur jika ada di antara mereka yang tertimpa musibah.
3. Menyambung Hubungan Meski Diputus
Adab tertinggi dalam silaturahim adalah tetap berbuat baik dan berlemah lembut kepada kerabat, meskipun mereka bersikap keras, menzhalimi, atau bahkan memutus hubungan sepihak. Kita menyambung rahim demi menaati Allah, bukan sekadar membalas budi kebaikan mereka.
4. Menjauhkan Diri dari Dosa Memutus Silaturahim
Seorang Muslim sangat takut terhadap ancaman memutuskan kekeluargaan, karena perbuatan tersebut mengundang laknat dan merusak tatanan bumi. Allah {Subhanahu wa Ta'ala} berfirman:
“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (QS. Muhammad: 22).
Hubungan Rahim dan Ar-Rahman
Menyambung silaturahim adalah salah satu amalan utama yang menjadi kunci pembuka gerbang surga dan penjauh dari siksa api neraka (HR. Bukhari & Muslim). Begitu agungnya amalan ini, sampai-sampai Allah menyandarkan nama "Rahim" dari nama mulia-Nya sendiri.
Dalam sebuah Hadits Qudsi, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Allah {Subhanahu wa Ta'ala} berfirman: ‘Aku adalah Rahman, dan nama hubungan rahim ini Aku ambilkan dari nama-Ku. Barang siapa menyambung tali silaturahmi, maka Aku akan menyambung ikatan dengannya, dan barang siapa memutus tali silaturrahmi, maka Aku pun akan memutus hubungan dengannya.’” (HR. Tirmidzi & Abu Dawud).
Kesimpulan: Urutan Prioritas Kebaktian
Ketika kita ingin menebar kebaikan di muka bumi, jangan sampai kita melompati orang-orang terdekat kita sendiri. Urutan prioritas bakti ini telah digariskan secara sempurna oleh Baginda Nabi ﷺ ketika beliau ditanya tentang siapa yang paling berhak menerima perlakuan baik:
“Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian ayahmu, kemudian kerabatmu yang paling dekat dan seterusnya.” (HR. Tirmidzi & Abu Dawud).
Ya Allah, lembutkanlah hati kami untuk senantiasa menyambung tali silaturahim dengan kaum kerabat kami. Lapangkanlah rezeki kami agar dapat memenuhi hak-hak mereka, jagalah lisan kami dari menyakiti mereka, dan jadikanlah hubungan kekeluargaan ini sebagai jalan bagi kami untuk meraih cinta dan jannah-Mu. Allahumma Aamiin.
Artikel ini merupakan bagian dari sudut bacaan Tazkiyatun Nafs / Khazanah (Literasi) di Nurulhaqsa: Kompas Niat, Ragam Maslahat.
