Menjaga kesucian lahir batin sesuai sunnah

 Bab I: Adab Menjaga Karakteristik Fitrah Islam

​Seorang Muslim sejati menyadari bahwa seluruh sendi kehidupannya terikat erat dengan aturan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi ﷺ. Ia melangkah di bawah naungan cahaya keduanya dan bertindak lurus sesuai petunjuk syariat, tanpa mencari alternatif di luar itu. Allah {Subhanahu wa Ta'ala} berfirman:

​“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka....” (QS. Al-Ahzab: 36).

​“....Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.....” (QS. Al-Hasyr: 7).

​Bukti keandalan iman seseorang terletak pada ketundukan hawa nafsunya terhadap risalah nubuwah. Rasulullah ﷺ menegaskan: “Tidak sempurna iman seseorang sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.”^[1] Beliau ﷺ juga mengingatkan: “Siapa yang mengamalkan amalan yang tidak berdasarkan petunjuk kami, maka amalan tersebut tertolak.”^[2]

​Di antara wujud ketundukan syariat yang menyentuh fisik dan kebersihan manusia adalah menjaga 5 karakteristik fitrah asal penciptaan. Rasulullah ﷺ bersabda:\text{خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ: الْخِتَانُ، وَالِاسْتِحْدَادُ، وَقَصُّ الشَّارِبِ، وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ، وَنَتْفُ الْإِبْطِ}

Artinya: “Lima hal yang termasuk karakteristik fitrah: khitan, mencukur rambut kemaluan, memotong kumis, mencabut rambut di ketiak, dan memotong kuku.”^[3]


​1. Adab dan Ketentuan Khitan

  • Makna Fikih: Khitan adalah memotong kulup (kulit) yang menutupi kepala kemaluan laki-laki agar terjaga dari endapan najis urinoir.
  • Waktu Pelaksanaan: Paling utama dan dianjurkan pada hari ketujuh dari kelahiran, meneladani Rasulullah ﷺ yang mengkhitan kedua cucunya, Al-Hasan dan Al-Husain ~\text{Radhiyallahu 'Anhuma} (putra Fathimah dan ‘Ali) pada hari ketujuh. Namun, tidak mengapa jika diakhirkan sampai batas sebelum usia baligh. Nabi Ibrahim ~\text{Alaihis Salam} sendiri dikhitan pada usia 80 tahun.
  • Pintu Masuk Islam: Khitan menjadi syiar kebersihan tauhid. Diriwayatkan dari Nabi ﷺ, apabila ada seorang lelaki yang memeluk Islam, beliau bersabda: “Hilangkan syiar kekufuran dan berkhitanlah.”^[4]

​2. Adab Merawat Rambut Wajah dan Kepala (Kumis, Jenggot, & Rambut)

​Islam sangat memperhatikan kerapian wajah laki-laki untuk membedakan identitas mereka dari kaum pagan:

  • Memotong Kumis & Melebatkan Jenggot: Wajib memotong kumis yang telah memanjang menyentuh bibir, dan haram mencukur habis jenggot. Rasulullah ﷺ memerintahkan: “Potonglah kumis, lebatkanlah jenggot, dan selisihilah Majusi.”^[5] Dalam riwayat lain: “Selisihi orang-orang musyrik, potonglah kumis dan panjangkan jenggot.”^[6]
  • Larangan Potongan Rambut Qaza’: Dilarang keras mencukur rambut kepala dengan model qaza’ (mencukur habis sebagian rambut kepala dan membiarkan sebagian rambut lainnya tumbuh panjang). Sahabat Ibnu Umar ~\text{Radhiyallahu 'Anhuma} menegaskan: “Rasulullah ﷺ melarang qaza’.”^[7]
  • Larangan Menyemir Hitam: Ketika melihat ayah Abu Bakr As-Shiddiq (Abu Quhafah) pada hari Fathu Makkah dengan rambut dan jenggot memutih seperti pohon tsagham, Nabi ﷺ bersabda: “Bawalah beliau ke istrinya agar jenggotnya diwarnai, dan hindarilah warna hitam.”^[8] Sunnah mewarnai uban menggunakan tumbuhan alami seperti pacar (hinna') dan inai (katam).
  • Memuliakan Rambut Panjang: Jika seorang Muslim memilih memanjangkan rambut kepalanya, ia wajib merawatnya dengan menyisir dan memberi minyak rambut. Nabi ﷺ bersabda: “Siapa yang memiliki rambut, hendaknya dia muliakan.”

​3. Adab Membersihkan Rambut Ketiak

​Seorang Muslim disunnahkan untuk mencabut rambut yang tumbuh di kedua ketiaknya guna menghindari bau badan. Namun, jika ia tidak sanggup menahan rasa sakit akibat dicabut, diperbolehkan mengambil solusi alternatif seperti mencukurnya secara rutin atau menggunakan krim/obat penghilang rambut yang aman.

​4. Adab Memotong Kuku

​Memotong kuku yang sudah panjang dilakukan demi kebersihan saat makan dan berwudhu. Berdasarkan kesukaan Rasulullah ﷺ yang condong pada sisi kanan (tayamun) dalam urusan kebaikan, urutan memotong kuku yang dianjurkan adalah:

  1. Kuku Tangan: Dahulukan seluruh jemari tangan kanan, baru kemudian beralih ke tangan kiri.
  2. Kuku Kaki: Dahulukan jemari kaki kanan, lalu selesaikan pada kaki kiri.
  3. Catatan Niat: Lakukanlah seluruh amalan karakteristik fitrah di atas dengan niat ikhlas meneladani Sunnah Rasulullah ﷺ agar aktivitas kebersihan fisik ini bertransformasi menjadi aliran pahala. Sebab, setiap amal bergantung pada niatnya.


    ​Bab II: Adab Tidur Menurut Tuntunan Sunnah

    ​Islam memandang tidur bukan sekadar aktivitas biologis yang kosong dari nilai, melainkan sebuah karunia istirahat dan tanda kebesaran Allah ~\text{Subhanahu wa Ta'ala} yang wajib disyukuri. Allah {Subhanahu wa Ta'ala} berfirman:

    “Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.” (QS. Al-Qashash: 73).


    “Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat.” (QS. An-Naba’: 9).


    ​Tidur malam yang cukup dan proporsional membantu memulihkan kesehatan, menyokong pertumbuhan, dan memompa kembali semangat tubuh agar esok hari bisa optimal beribadah dan bekerja. Demi menjemput keberkahan tidur, berikut adab-adabnya:

    ​1. Menjauhi Begadang Setelah Isya

    ​Seorang Muslim dilarang menghabiskan waktu malam untuk mengobrol kosong yang tidak bermanfaat. Sahabat Abu Hurairah ~\text{Radhiyallahu 'Anhu} meriwayatkan bahwa:

    “Nabi ﷺ membenci tidur sebelum shalat Isya dan membenci mengobrol (begadang) setelah menunaikannya.”


    Pengecualian: Begadang diperbolehkan jika ada maslahat syar'i atau urusan penting, seperti:

    • ​Muthala'ah ilmu (belajar).
    • ​Melayani dan menjamu obrolan tamu.
    • ​Bercengkrama manis membangun keharmonisan bersama istri.

    ​2. Berwudhu Sebelum Tidur

    ​Biasakan tubuh dalam keadaan suci sebelum berbaring. Rasulullah ﷺ bersabda kepada Barra’ bin ‘Azib {Radhiyallahu 'Anhu}:

    “Apabila kamu hendak beranjak ke tempat tidur, maka berwudhu’lah seperti wudhu’ shalat.”


    ​3. Posisi Berbaring yang Sunnah

    ​Posisi tidur yang ideal menurut medis dan sunnah adalah miring menghadap ke sebelah kanan, lalu meletakkan telapak tangan kanan di bawah pipi kanan sebagai bantal. Jika di tengah malam posisi tubuh berubah bergeser menghadap ke kiri, hal itu tidak mengapa. Nabi ﷺ bersabda: “...dan berbaringlah menghadap ke kanan.”^[9] Di hadits lain disebutkan: “Apabila kamu beranjak ke tempat tidur dalam keadaan sudah bersuci, berbantalah dengan tangan kananmu.”^[10]

    ​4. Larangan Tidur Tengkurap

    ​Dilarang keras memposisikan tubuh tengkurap (dada dan perut menempel di kasur), baik saat tidur malam maupun tidur siang. Rasulullah ﷺ memperingatkan:

    • “Itu adalah gaya tidur para penduduk neraka.”^[11]
    • “Itu adalah gaya tidur yang tidak dicintai (dimurkai) Allah.”^[12]

    ​5. Khazanah Zikir dan Doa Sebelum Tidur

    ​Sebelum terlelap, bentengi jiwa Anda dengan urutan zikir ma'tsur berikut:

    ​A. Tasbih Fatima (Saran Pengganti Pembantu)

    ​Ketika Fatimah dan Ali {Radhiyallahu 'Anhuma} meminta seorang pembantu rumah tangga, Nabi ﷺ memberikan solusi spiritual yang jauh lebih menguatkan fisik:

    “Apabila kalian sudah berbaring di tempat tidur, bertasbihlah (Subhanallah) 33 kali, bertahmidlah (Alhamdulillah) 33 kali, dan bertakbirlah (Allahu Akbar) 34 kali. Ini lebih baik daripada pembantu yang kalian berdua minta.”


    ​Setelah itu tutup dengan membaca: “Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir.”

    ​B. Membaca Ayat-Ayat Al-Qur'an Perlindungan

    • ​Membaca Surat Al-Fatihah.
    • ​Membaca Surat Al-Baqarah ayat 1–5 (hingga kalimat wa ula'ika humul muflihun).
    • ​Membaca Ayat Kursi (Al-Baqarah: 255) sebagai perisai dari gangguan setan hingga pagi.
    • ​Membaca Amanarrasulu (Dua ayat terakhir surat Al-Baqarah: 285–286).

    ​C. Doa Inti Sebelum Tidur (Doa Pasrah Jiwa Raga)

    ​Lantunkan doa komprehensif penyerahan diri yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ ini:\text{بِاسْمِكَ رَبِّ لَمْ نَضَعْ جَنْبِي وَبِاسْمِكَ أَرْفَعُهُ، اللَّهُمَّ إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَاغْفِرْ لَهَا، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ.}


    \text{اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ،}

    \text{وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ، فَاغْفِرْ لِي ذَنْبِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ،}

    \text{وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، رَبِّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ.}

    Artinya: “Dengan nama-Mu ya Allah aku baringkan punggungku, dan dengan nama-Mu aku mengangkatnya. Ya Allah, jika Engkau menahan jiwaku (wafat) maka ampunilah, dan jika Engkau lepaskan kembali (hidup) maka jagalah ia seperti Engkau menjaga hamba-hambaMu yang shalih.

    Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepada-Mu, menyerahkan urusanku kepada-Mu, aku memohon ampunan-Mu, dan aku bartaubat kepada-Mu. Aku beriman dengan kitab-Mu yang Engkau turunkan, beriman dengan Nabi yang Engkau utus, maka ampunilah dosaku yang berlalu dan yang akan datang, yang tersembunyi, yang tampak, dan dosa yang lebih Engkau ketahui daripada diriku. Engkau yang mendahulukan dan mengakhirkan, tiada sembahan selain Engkau. Rabbku, jagalah aku dari adzab-Mu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu.”


    ​D. Zikir Jika Terbangun Mendadak di Tengah Malam

    ​Jika Anda terbangun di malam hari, amalkan zikir agung ini sebelum mengubah posisi atau berdoa, karena waktu ini adalah waktu yang mustajab:

    “Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir. Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaha illallah, wallahu akbar, wa laa haula wa laa quwwata illa billah.”


    ​Nabi ﷺ menjanjikan: siapa yang terbangun lalu membaca zikir di atas, kemudian ia berdoa, doanya pasti dikabulkan. Dan jika ia langsung berwudhu lalu shalat, shalatnya diterima. Anda juga bisa membaca alternatif doa pengakuan tauhid: “Laa ilaha illa Anta subhanaka, Allahumma astaghfiruka lidzanbi wa as’aluka rahmatak. Allahumma zidni ‘ilma, wa laa tuzigh qalbi ba’da idzhadaitani, wa habli min ladunka rahmah, innaka Antal Wahhab.”

    ​6. Zikir dan Doa Memulai Pagi (Bangun Tidur)

    ​Ketika fajar menyingsing dan Allah membangunkan Anda kembali, jalankan rangkaian adab berikut:

    {الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ}

    ​Artinya: “Segala puji milik Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami (tidur), dan hanya kepada-Nya lah kami kembali.”

    Menatap Langit & Membaca Ali Imran: Jika Anda bangun untuk menunaikan Shalat Tahajjud, disunnahkan mengusap bekas tidur di wajah, lalu melihat ke arah langit sambil membaca 10 ayat terakhir surat Ali Imran (Ayat 190–200), sebagaimana yang dipraktikkan Rasulullah ﷺ saat menginap di rumah Ibunda Maimunah ~{Radhiyallahu 'Anha}.^[13]

    Membaca Zikir Kesaksian Pagi (Dibaca 4 Kali):

    ​“Ya Allah, aku masuk dalam waktu pagi, dalam keadaan menjadikan-Mu, pembawa arsy-Mu, semua malaikat, dan semua makhluk-Mu sebagai saksi bahwa Engkau adalah Allah, tiada sembahan selain diri-Mu, tiada sekutu bagi-Mu dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu.”

    Fadhilah: Siapa yang membacanya 1x akan dibebaskan 1/4 dirinya dari neraka, membaca 3x dibebaskan 3/4 dirinya, dan membaca 4x maka Allah akan bebaskan seluruh jasadnya dari api neraka.^[14]

    7. Adab Keluar Meninggalkan Rumah

    ​Ketika melangkahkan kaki melewati pintu rumah untuk beraktivitas, bacalah pelindung ini:

    Doa Tawakal Mutlak: “Bismillahi, tawakkaltu ‘alallah, laa haula wa laa quwwata illa billah.”^[15] (Maka malaikat akan berkata: 'Kamu telah diberi petunjuk dan sudah dicukupkan pelindungannya.')

    Doa Perlindungan Sosial (Sambil Menatap Langit): Ibunda Ummu Salamah ~{Radhiyallahu 'Anha} mengisahkan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah sekalipun keluar dari rumahnya tanpa melihat ke arah langit lalu berdoa:^[16]

    {اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ}

    Artinya: “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kesesatan dan disesatkan, tergelincir (dalam dosa) dan digelincirkan, menzhalimi dan dizhalimi, serta dari sifat bodoh dan dibodoh-bodohi oleh orang lain.”

    Catatan Kaki (Referensi Dalil)

    ​^[1] Disahihkan oleh Imam An-Nawawi dalam Kitab Al-Arba'in An-Nawawiyyah (Hadits Hasan Shahih dari Kitab Al-Hujjah).

    ^[2] HR. Bukhari dan Muslim (Muttafaqun ‘alaihi).

    ^[3] HR. Bukhari dan Muslim (Muttafaqun ‘alaihi).

    ^[4] HR. Abu Dawud No. 356.

    ^[5] HR. Bukhari No. 260.

    ^[6] HR. Muslim No. 259.

    ^[7] HR. Bukhari dan Muslim (Muttafaqun ‘alaihi).

    ^[8] HR. Ibnu Majah No. 3624.

    ^[9] HR. Bukhari dan Muslim (Muttafaqun ‘alaihi).

    ^[10] HR. Abu Dawud No. 5047.

    ^[11] HR. Ibnu Majah No. 3724.

    ^[12] HR. Tirmidzi No. 2768.

    ^[13] Disarikan dari penuturan Sahabat Ibnu Abbas ~\text{Radhiyallahu 'Anhuma} dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim.

    ^[14] Sesuai dengan fadhilah hadits sahih riwayat HR. Abu Dawud No. 5069.

    ^[15] HR. Tirmidzi No. 3426.

    ^[16] HR. Abu Dawud No. 5094.

    Artikel ini merupakan bagian dari sudut bacaan Tazkiyatun Nafs / Khazanah (Literasi) di Nurulhaqsa: Kompas Niat, Ragam Maslahat.