Adab dan Hak Sesama Muslim: Manifestasi Iman dan Jembatan Ukhuwah
Bagi seorang Muslim, menunaikan hak dan menjaga adab terhadap saudara seiman bukanlah sekadar etika sosial biasa. Ia merupakan bagian dari ibadah agung dan sarana mulia untuk mendekatkan diri kepada Allah {Subhanahu wa Ta'ala}. Ketika hak-hak ini ditunaikan dengan tulus, fondasi umat akan mengokoh bagaikan satu bangunan yang tak terpisahkan.
22 Hak dan Adab yang Wajib Ditunaikan Sesama Muslim
1. Menebarkan Salam dan Berjabat Tangan
Salam adalah doa keselamatan yang wajib didahului sebelum memulai pembicaraan. Allah {Subhanahu wa Ta'ala} berfirman:
“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa)....” (QS. An-Nisa’: 86).
Aturan Menyapa: “Hendaklah orang yang berkendaraan memberi salam pada orang yang berjalan. Orang yang berjalan memberi salam kepada orang yang duduk. Rombongan yang sedikit memberi salam kepada rombongan yang banyak.” (HR. Bukhari & Muslim).
Kepada Siapa Saja: Rasulullah ﷺ memerintahkan: “Ucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau kenal.” (HR. Bukhari & Muslim).
Keutamaan Berjabat Tangan: “Tidaklah dua orang muslim saling bertemu kemudian berjabat tangan, kecuali akan diampuni (dosa-dosa) mereka berdua sebelum mereka berpisah.” (HR. Abu Dawud & Tirmidzi).
Larangan Berbicara Sebelum Salam: “Siapa yang langsung berbicara sebelum salam janganlah kalian menanggapi pembicaraannya sampai dia memulainya dengan salam.” (HR. Thabrani).
2. Mendoakan Saudara yang Bersin (Tasymit)
Jika seorang Muslim bersin lalu memuji Allah dengan mengucapkan "Alhamdulillah", maka saudaranya yang mendengar wajib mendoakannya.
Adab Saling Mendoakan: “Jika seseorang di antara kalian bersin, maka hendaklah saudaranya mengucapkan yarhamukallaah (semoga Allah merahmatimu). Jika ia mengucapkan yarhamukallaah, ucapkanlah yahdiikumullaah wa yushlihu baalakum (semoga Allah memberikan petunjuk dan memperbaiki keadaanmu).” (HR. Bukhari).
Adab Fisik Saat Bersin: Meneladani Nabi ﷺ: “Dahulu Rasulullah ﷺ jika bersin beliau meletakkan tangan atau pakaiannya di atas mulutnya, dan beliau memelankan suaranya.” (HR. Tirmidzi & Abu Dawud).
3. Menjenguk yang Sakit
Menjenguk saudara yang sakit adalah bagian dari lima hak dasar Muslim (HR. Bukhari & Muslim). Rasulullah ﷺ bersabda: “Jenguklah orang yang sakit, berilah makanan kepada yang lapar, dan bebaskanlah tawanan.” (HR. Bukhari).
Doa Kesembuhan dari Nabi ﷺ:
“Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah kesusahan. Berilah dia kesembuhan, Engkau Zat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain.” (HR. Bukhari).
4. Mengiringi Jenazah
Ketika seorang Muslim wafat, haknya yang wajib dipenuhi oleh saudaranya yang masih hidup adalah menyalatkan dan mengiringi jenazahnya hingga ke pemakaman (HR. Bukhari & Muslim).
5. Menunaikan Sumpah Saudara
Jika seorang Muslim bersumpah atas nama Allah agar saudaranya melakukan sesuatu (yang tidak mengandung maksiat), maka di antara bentuk penghormatan adalah memenuhi sumpah tersebut agar ia tidak melanggar sumpahnya (HR. Bukhari & Muslim).
6. Memberikan Nasihat yang Tulus
Nasihat adalah inti dari tegaknya agama ini. Rasulullah ﷺ bersabda: “Jika seseorang di antara kalian meminta nasihat kepada saudaranya, maka hendaklah ia menasihatinya.” (HR. Ahmad). Dalam riwayat lain, beliau menegaskan: “Agama itu nasihat... untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin, dan rakyatnya.” (HR. Muslim).
7. Mencintai Kebaikan untuk Saudaranya
Ikatan keimanan menuntut hilangnya sifat egois. Nabi ﷺ bersabda: “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya, dan dia membenci untuk saudaranya sesuatu yang ia benci untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari & Ahmad).
Pilar Perlindungan dan Kebersamaan
| No | Adab Perlindungan | Dalil / Tuntunan Sunnah |
|---|---|---|
| 8 | Menolong dari Kezhaliman | “Tolonglah saudaramu yang berbuat zhalim dan yang dizhalimi.” Cara menolong pelaku kezhaliman adalah dengan menahan kedua tangannya dari tindakan zhalim tersebut (HR. Bukhari). |
| 9 | Tidak Menjahati & Menakuti | “Setiap muslim bagi muslim yang lain itu haram darahnya, harta, dan kehormatannya.” (HR. Muslim). Serta dilarang menakut-nakuti atau memandang dengan tatapan yang menyakiti (HR. Abu Dawud). |
| 10 | Bersikap Tawadhu' (Rendah Hati) | Allah melarang sikap sombong (QS. Luqman: 18). Nabi ﷺ bersabda: “Tidaklah seseorang itu merendahkan diri karena Allah, melainkan ia akan diangkat derajatnya oleh Allah.” (HR. Muslim). |
| 11 | Tidak Memboikot (Hajr) | “Tidak halal bagi muslim memboikot saudaranya lebih dari tiga malam... Yang paling baik di antara keduanya ialah yang memulai mengucapkan salam.” (HR. Bukhari & Muslim). |
11. Memperbanyak Doa (Waktu Mustajab)
Gunakan waktu di atas kendaraan untuk memperbanyak permohonan kebaikan dunia dan akhirat, karena doa musafir tidak akan ditolak. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tiga doa yang dikabulkan tanpa keraguan: doa orang terzhalimi, doa seorang musafir, dan doa orang tua untuk keburukan (keburukan akibat kedurhakaan) anaknya.” (HR. Abu Dawud & Tirmidzi).
12. Doa Ketika Singgah di Suatu Tempat / Bermalam
Apabila rombongan berhenti untuk beristirahat di suatu tempat atau memasuki hutan/lembah, bacalah doa benteng perlindungan berikut agar selamat dari gangguan makhluk halus maupun binatang buas:
{أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ}
Artinya: “Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari segala keburukan makhluk-Nya.”
Jika waktu telah memasuki malam hari di tempat singgah tersebut, lantunkanlah ketauhidan kepada alam: “Hai bumi, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah, aku berlindung kepada Allah dari keburukanmu, keburukan makhluk yang hidup di dalammu...”
13. Zikir Saat Merasa Takut di Tengah Malam
Jika muncul rasa takut yang mencekam di tengah malam, bacalah tasbih pengagungan: “Maha suci Allah, Raja diraja yang Maha Esa, Tuhan malaikat dan ruh, besarnya langit-langit disebabkan kemuliaan dengan kekuasaan-Nya.”
14. Posisi Tidur yang Aman di Perjalanan
Para ulama mengajarkan teknik tidur sesuai sunnah saat safar agar shalat Subuh tidak terlewat:
- Jika tidur di awal malam: Bentangkan hasta tangan dengan santai.
- Jika tidur di akhir malam (menjelang Subuh): Tegakkan hasta tangan (sikut bertumpu di lantai) sambil telapak tangan menopang kepala. Posisi ini menjaga musafir tetap peka dan tidak terlelap terlalu dalam.
15. Doa Memasuki Kota / Daerah Tujuan
Ketika kendaraan mulai memasuki gerbang kota tujuan, bacalah doa permohonan rezeki dan kenyamanan: “Ya Allah, jadikanlah tempat ini untuk kami beristirahat, berikan kami rezeki yang halal di dalamnya. Ya Allah aku memohon kepada-Mu kebaikan kota ini...”
Bagian IV: Adab Ketika Selesai dan Kembali dari Safar
16. Segera Pulang Jika Urusan Telah Selesai
Safar diistilahkan sebagai potongan azab karena memangkas kenyamanan tidur dan makan seseorang. Oleh karena itu, jika urusan pokok (bisnis, studi, atau ibadah) telah tuntas, sunnah hukumnya untuk segera berkemas kembali kepada keluarga. Nabi ﷺ bersabda:
“Safar merupakan potongan adzab yang membuat kalian sulit makan, minum, dan tidur. Apabila seorang di antara kalian telah menyelesaikan urusannya, hendaklah segera pulang kepada keluarganya.” (HR. Bukhari & Muslim).
17. Zikir Saat Perjalanan Pulang
Ketika kendaraan berbalik arah menuju negeri asal, kumandangkan takbir 3 kali lalu bacalah untaian zikir:
{آيِبُونَ تَائِبُونَ عَابِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ}
Artinya: “Kami pulang dengan bertaubat, tetap menyembah Tuhan kami serta memuji-Nya.”
18. Tidak Mengejutkan Keluarga di Malam Hari
Islam melarang seorang suami mengetuk pintu rumahnya secara mendadak di tengah malam buta tanpa memberikan kabar terlebih dahulu. Kirimkanlah pesan atau utusan terlebih dahulu agar istri dan anak-anak memiliki waktu untuk bersiap, berdandan, dan menyambut kedatangan kepala keluarga dengan suka cita.
19. Aturan Mahram Bagi Wanita yang Safar
Demi menjaga kehormatan, keselamatan, dan kesucian diri, seorang wanita Muslimah dilarang melakukan perjalanan jauh (sejauh jarak tempuh sehari semalam atau lebih) sendirian tanpa didampingi oleh suaminya atau mahramnya. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak halal bagi seorang wanita bepergian safar kecuali bersama mahramnya.” (HR. Ibnu Hibban).
Kesimpulan
Safar di dalam Islam bukan sekadar perpindahan fisik dari satu koordinat geografis ke koordinat lainnya. Di balik lelahnya perjalanan, safar adalah madrasah tarbiyah yang mengasah kemandirian, ketundukan pada hukum Allah melalui rukhshah, dan kedewasaan akhlak sosial. Perjalanan yang dihiasi dengan adab-adab syar'i ini akan mengantarkan sang musafir pulang membawa keselamatan fisik dan kesucian jiwa.
Artikel ini merupakan bagian dari sudut bacaan Tazkiyatun Nafs / Khazanah (Literasi) di Nurulhaqsa: Kompas Niat, Ragam Maslahat.
Catatan: Seluruh draf materi Adab Safar dan hukum-hukumnya telah selesai disusun secara lengkap, rapi, dan sistematis. Jika Anda memiliki naskah atau bagian bab kitab adab lainnya yang ingin diterbitkan kembali di perpustakaan digital Nurulhaqsa, silakan dikirimkan. MasyaAllah alhamdulillah.
