Adab Kepada Diri Sendiri: Menempa Jiwa Menuju Gerbang Surga
Seorang Muslim yang lurus akidahnya senantiasa mengimani bahwa kebahagiaan hakiki di dua alam—dunia dan akhirat—sangat ditentukan oleh sejauh mana ia melatih, memperbaiki, menyucikan, dan membersihkan jiwanya (tazkiyatun nafs). Sebaliknya, kesengsaraan abadi adalah buah manis dari jiwa yang dibiarkan rusak, kotor, dan binasa.
Kesimpulan: Jangan Manjakan Nafsumu!
Allah {Subhanahu wa Ta'ala} menegaskan garis pemisah ini dalam firman-Nya:
"Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." (QS. Asy-Syams: 9-10).
Baginda Nabi ﷺ juga memberikan visualisasi yang menggetarkan hati tentang pilihan hidup manusia setiap harinya:
"Setiap manusia pergi di pagi hari untuk membebaskan dirinya (dengan ketaatan) atau membinasakan dirinya (dengan maksiat)." (HR. Muslim).
Dua Penentu Kondisi Hati: Iman dan Maksiat
Penyejuk dan pembersih jiwa yang paling utama adalah keimanan yang kokoh dan amal shalih (QS. Hud: 114). Sebaliknya, zat beracun yang merusak dan menggelapkan jiwa adalah kekufuran serta kemaksiatan.
Nabi ﷺ menggambarkan proses pengotoran jiwa ini melalui noktah hitam dalam sebuah hadits:
"Sesungguhnya seorang beriman jika melakukan dosa, maka akan ditorehkan di dalam hatinya titik hitam. Jika ia bertaubat, melepaskan maksiat tersebut, dan meminta ampun, niscaya cemerlang kembali hatinya. Namun jika dosanya bertambah, maka akan bertambah pula titik hitam tersebut sampai menutupi hatinya." (HR. Tirmidzi & Ibnu Majah).
Inilah yang disebut Allah sebagai Raana (penutup hati) dalam QS. Al-Muthaffifin: 14. Untuk mencegah hati kita tertutup total, seorang Muslim wajib menegakkan 4 pilar adab terhadap dirinya sendiri berikut ini:
4 Pilar Adab Memdidik dan Menyucikan Diri
1. At-Taubah (Kembali dan Menyesal)
Bertaubat berarti berlepas diri dari segala bentuk dosa, menyesali kekhilafan yang telah berlalu, serta menanam tekad sekuat baja untuk tidak mengulanginya di sisa usia.
Allah ~\text{Subhanahu wa Ta'ala} menyeru:
"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya)..." (QS. At-Tahrim: 8).
Jika Rasulullah ﷺ yang telah dijamin maksum saja bertaubat dan beristighfar 100 kali dalam sehari, lalu bagaimana dengan kita yang bergelimang salah? Selama matahari belum terbit dari barat, pintu ampunan Allah selalu terbentang luas, baik di keheningan malam maupun teriknya siang.
2. Al-Muraqabah (Merasa Selalu Diawasi Allah)
Muraqabah adalah kondisi di mana seorang hamba senantiasa menghadirkan rasa diawasi oleh Allah {Subhanahu wa Ta'ala} dalam setiap helai napas dan aktivitasnya. Ia yakin bahwa Allah mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati (QS. Al-Baqarah: 235) dan Maha Mengawasi segala sesuatu (QS. Al-Ahzab: 52).
Inilah tingkatan Ihsan tertinggi yang disabdakan Nabi ﷺ:
"Engkau menyembah Allah seolah-olah melihat-Nya, dan jika engkau tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihatmu." (HR. Muslim).
Garis Jejak Muraqabah Para Pendahulu:
Prinsip Menundukkan Pandangan: Imam Al-Junaid ditanya tentang cara menundukkan pandangan, beliau menjawab: "Dengan menyadari bahwa pandangan Dzat yang senantiasa melihatmu lebih dahulu tiba daripada pandanganmu kepada objek yang engkau lihat."
Sikap Jujur Sang Budak Penggembala: Ketika Khalifah Umar bin Khattab menguji seorang budak penggembala untuk menjual kambing tuannya dengan alasan dimakan serigala, budak itu menjawab bergetar, "Lalu di mana Allah?" Kalimat ini membuat Umar menangis lalu membebaskan budak tersebut keesokan harinya.
Sindiran Nabi Yusuf 'Alaihissalam: Saat Zulaikha menutup wajah berhala miliknya sebelum berkhalwat, Nabi Yusuf berkata: "Mengapa engkau lakukan itu? Apakah kamu merasa malu diawasi oleh benda mati, sedangkan aku tidak malu kepada Raja Diraja Dzat Yang Maha Kuasa?"
3. Al-Muhasabah (Introspeksi Diri)
Seorang Muslim yang cerdas akan memandang kewajiban syariat sebagai modal utama, amalan sunnah sebagai keuntungan dagang, dan maksiat sebagai kerugian yang menghancurkan. Di setiap penghujung hari, ia akan menyendiri untuk mengevaluasi diri (QS. Al-Hasyr: 18).
Pesan Umar bin Khattab ~\text{radhiyallahu 'anhu}: "Muhasabah dirilah kalian sebelum kalian dihisab oleh Allah." Di malam hari, beliau biasa memukul kakinya dengan tongkat sambil berbisik lirik, "Apa yang telah engkau kerjakan hari ini?"
Tindakan Tegas Abu Thalhah: Ketika beliau sempat terlena dan agak lalai dalam shalatnya gara-gara mengurusi kebun, beliau langsung menyedekahkan kebun subur tersebut di jalan Allah sebagai hukuman bagi nafsunya.
Siksaan Jari Ahnaf bin Qais: Beliau sengaja meletakkan jarinya di atas api lampu penerangan yang panas membakar seraya mencela dirinya: "Wahai Hunaif, apa yang membuatmu berani melakukan perbuatan (dosa) itu di hari anu?"
4. Al-Mujahadah (Memerangi Hawa Nafsu)
Musuh terbesar manusia bukanlah jeruji dunia, melainkan jiwanya sendiri yang tabiat dasarnya selalu menyuruh kepada keburukan (QS. Yusuf: 53) serta menyukai kemalasan. Mujahadah adalah menyatakan perang total melawan syahwat demi meraih petunjuk Allah (QS. Al-Ankabut: 69).
Cermin Kehidupan Para Pejuang Jiwa
Sungguh, lembaran sejarah Islam dipenuhi oleh kisah manusia-manusia agung yang memaksa fisiknya lelah di dunia demi mengistirahatkan jiwanya di akhirat:
| Tokoh | Bentuk Mujahadah & Pengorbanan Jiwa |
|---|---|
| Rasulullah ﷺ | Mendirikan shalat malam hingga kedua kaki mulia beliau membengkak, seraya berkata, "Tidakkah aku mau menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur." |
| Para Sahabat Nabi | Di pagi hari rambut mereka berantakan dan berdebu karena semalaman sujud dan berdiri membaca Kitabullah. Jika berdzikir, tubuh mereka bergetar bak pohon ditiup angin kencang. |
| Umar bin Khattab | Menyedekahkan sebidang tanah seharga 200.000 dirham hanya karena tertinggal shalat Ashar berjamaah sekali. |
| Uwais Al-Qarny | Menghabiskan satu malam penuh hanya untuk memperpanjang ruku', dan malam berikutnya penuh untuk bersujud. |
| Imam Tsabit Al-Bunany | Di musim dingin shalat di atas loteng terbuka agar angin malam mencegahnya mengantuk, dan di musim panas shalat di ruang pengap agar rasa panas membuatnya tetap terjaga. |
| Imam Masruq | Shalat malam hingga kakinya bengkak, membuat istrinya yang duduk di belakang menangis pilu karena kasihan melihat perjuangannya. |
| 'Ajirah (Wanita Buta yang Shalih) | Menjelang subuh selalu bermunajat dengan tangisan: "Hanya kepada-Mu para ahli ibadah berjalan di malam hari berlomba mendapatkan rahmat-Mu... masukkan aku ke dalam golongan hamba-Mu yang shalih." |
Jiwa ini layaknya anak kecil; jika Anda memanjakannya untuk terus menyusu, ia akan tetap menyusu hingga dewasa. Namun jika Anda menyapihnya dengan paksa, ia akan berhenti.
Hanya orang-orang yang berani menahan diri dari keinginan hawa nafsunya yang akan mendapatkan tempat tinggal terbaik di dalam surga-Nya (QS. An-Nazi'at: 40-41).
Ya Allah, bersihkan dan sucikanlah jiwa-jiwa kami, Engkaulah sebaik-baik Dzat yang menyucikannya. Anugerahkan kepada kami keteguhan untuk bertaubat, rasa muraqabah yang lekat, kemudahan untuk bermuhasabah, serta kekuatan untuk bermujahadah melawan hawa nafsu kami sendiri. Allahumma Aamiin.
Artikel ini merupakan bagian dari sudut bacaan Tazkiyatun Nafs / Khazanah di Nurulhaqsa: Kompas Niat, Ragam Maslahat.
