​Adab Kepada Al-Qur'an: Menatap Cermin Hati Sang Ahli Qur'an



​Al-Qur'anul Karim adalah firman Allah ~{Subhanahu wa Ta'ala}, kitab suci yang tidak ada kebatilan di depan maupun di belakangnya. Siapa yang berkata sesuai dengannya pasti benar, dan siapa yang berhukum dengannya pasti adil. Namun, Al-Qur'an bukan sekadar pajangan dinding atau pelengkap ruangan. Ia adalah ruh yang menghidupkan hati yang mulai gersang.

​Baginda Nabi ﷺ bersabda:

​"Sesungguhnya hati bisa berkarat sebagaimana besi berkarat." Sahabat bertanya: "Duhai Rasulullah, bagaimana cara menghilangkan karat tersebut?" Rasulullah ﷺ menjawab: "Membaca Al-Qur'an dan mengingat kematian." (HR. Ibnu Majah).

​Bahkan, Al-Walid bin al-Mughirah—seorang tokoh Quraisy yang kala itu sangat memusuhi Islam—langsung bertekuk lutut merinding saat mendengar Rasulullah ﷺ membacakan Surah An-Nahl ayat 90. Ia bersaksi dengan jujur: "Sungguh padanya terdapat keindahan dan keelokan, bagian atasnya berbuah, bagian bawahnya memancar mata air. Ini bukanlah perkataan manusia."

​Jika orang yang belum beriman saja bisa terpesona oleh agungnya Al-Qur'an, lalu bagaimana dengan kita?

​7 Adab Utama Saat Membaca Kitabullah

​Seorang Muslim yang mengimani kesucian Al-Qur'an, di samping menghalalkan apa yang dihalalkan dan mengharamkan apa yang diharamkan di dalamnya, wajib menghias diri dengan adab-adab berikut ketika membacanya:

​1. Berada dalam Kondisi Paling Sempurna

​Membaca Al-Qur'an hendaknya dilakukan dalam keadaan suci (berwudhu), menghadap kiblat, serta duduk dengan penuh rasa hormat, sopan, dan tenang.

​2. Membaca dengan Tartil & Tidak Terburu-buru

​Al-Qur'an diturunkan untuk diresapi, bukan sekadar balapan menyelesaikannya. Rasulullah ﷺ bersabda: "Siapa yang menyelesaikan bacaan Al-Qur'an kurang dari tiga malam, tidak akan bisa memahaminya." (HR. Abu Dawud). Para sahabat Nabi seperti Utsman bin Affan, Abdullah bin Mas'ud, dan Zaid bin Tsabit biasa mengkhatamkan Al-Qur'an setiap 7 hari sekali secara konsisten.

​3. Menghadirkan Jiwa yang Khusyu' dan Menangis

​Rasulullah ﷺ memerintahkan kita: "Bacalah Al-Qur'an dalam keadaan menangis, jika kalian tidak bisa menangis, buat-buatlah sebuah tangisan (karena mengusahakan kekhusyukan)." (HR. Ibnu Majah).

​4. Memperbagus Suara (Tahsin)

​Suara yang indah akan menambah keindahan untaian firman Allah di telinga. Nabi ﷺ bersabda: "Hiasilah Al-Qur'an dengan suara kalian," dan "Bukan dari golongan kami orang yang tidak memperindah suaranya saat membaca Al-Qur'an." (HR. Bukhari & Muslim).

​5. Memelankan Bacaan Jika Khawatir Riya

​Jika kita takut terjangkit penyakit hati seperti riya' (ingin dilihat) dan sum'ah (ingin didengar), atau jika suara kita mengganggu orang lain yang sedang shalat, maka memelankan suara adalah pilihan terbaik. Nabi ﷺ mengumpamakan: "Orang yang mengeraskan bacaan Al-Qur'an seperti orang yang bersedekah secara terang-terangan." (HR. Abu Dawud).

​6. Membaca dengan Tadabbur dan Tafakkur

​Hadirkan hati secara utuh. Berusahalah memahami setiap makna, hukum, kisah, dan rahasia yang terkandung di dalam setiap ayat yang mengalir melalui lisan kita.

​7. Menyelaraskan Lisan dengan Perbuatan

​Jangan sampai kita menjadi orang yang menghamba pada Al-Qur'an lewat lisan, namun menghancurkannya lewat kelakuan. Betapa ngeri jika kita membaca ayat: "...laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta" (QS. Ali Imran: 61) atau "...Laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zhalim" (QS. Al-A'raf: 44), sedangkan pada saat yang sama kita adalah pelaku dusta dan kezhaliman tersebut. Kita justru sedang melaknat diri kita sendiri.

​Sindiran Keras dari Kitab Terdahulu

​Dalam Kitab Taurat, terdapat sebuah riwayat yang menjadi tamparan keras bagi kita yang sering mengabaikan Al-Qur'an dan sibuk dengan gadget atau urusan duniawi lainnya. Allah ~\text{Subhanahu wa Ta'ala} berfirman:

​"Tidakkah engkau merasa malu kepada-Ku? Ketika datang kepadamu sebuah surat dari salah seorang saudaramu saat engkau berada di tengah jalan, engkau langsung menepi, duduk, dan membacanya huruf demi huruf hingga tidak ada satupun yang luput.

​Sedangkan ini adalah Kitab yang Aku turunkan kepadamu. Lihatlah bagaimana Aku merincikan setiap pembahasan untukmu? Berapa kali Aku mengulang penjelasan agar engkau bisa merenungkannya? Tapi nyatanya engkau malah berpaling. Apakah Aku menjadi lebih rendah di matamu daripada saudaramu itu?"

​Karakter Sejati "Ahlul Qur'an" (Keluarga Allah)

​Siapakah Ahlul Qur'an yang disebut Nabi ﷺ sebagai keluarga Allah dan orang khusus-Nya? Abdullah bin Mas'ud ~{radhiyallahu 'anhu} memberikan gambaran yang sangat indah tentang karakter mereka:

​"Sudah sepantasnya bagi pembaca Al-Qur'an untuk dikenal dengan ibadah malamnya saat manusia terlelap, dengan puasa siang harinya saat manusia makan, dengan tangisannya saat manusia tertawa, dengan sikap wara’-nya (menjaga diri dari yang syubhat/haram) saat manusia mencampuradukkan hukum, dengan diamnya saat manusia bicara sia-sia, dengan ketawadhuannya saat manusia sombong, dan dengan kesedihannya (mengingat akhirat) saat manusia terlena dalam kegembiraan."

​Pantas saja jika ulama tabi'in, Muhammad bin Ka'ab, mengatakan bahwa dahulu mereka mengenali para Ahlul Qur'an dari pucatnya kulit wajah mereka—sebuah tanda mulia dari malam-malam panjang yang dihabiskan untuk bertahajjud dan merenungi ayat-ayat-Nya.

​Seorang saleh bernama Wuhaib bin Ward pernah ditanya, "Apakah engkau tidak tidur?" Beliau menjawab dengan bergetar: "Sesungguhnya keajaiban-keajaiban di dalam Al-Qur'an telah menghilangkan rasa kantukku."

​Untaian Syair Dzunnun Al-Mishri

​Mari kita tutup renungan ini dengan bait syair indah dari Dzunnun Ar-Rasi:

​Janji dan ancaman di dalam Al-Qur'an telah menghalangi,

Istirahat dan lelapnya mata pada malam hari.

Sebab mereka memahami firman Raja Diraja Yang Maha Mulia,

Sehingga di hadapan-Nya, mereka tunduk, merasa rendah, dan hina.

​Semoga Allah {Subhanahu wa Ta'ala} melembutkan hati kita semua, mengampuni kelalaian kita terhadap Kitab-Nya, dan mengumpulkan kita semua ke dalam golongan Ahlul Qur'an yang sejati. Amin Ya Rabbal 'Alamin.

​Artikel ini merupakan bagian dari sudut bacaan Khazanah / Tazkiyatun Nafs di Nurulhaqsa: Kompas Niat, Ragam Maslahat.